Monday, April 24, 2006
Lelaki yang Senang Mencium Bau Tanah

Cerpen Firman Firdaus

MAUKAH kau kuceritakan tentang seorang lelaki yang suka mencium bau tanah? Baiklah. Duduk yang tenang. Rileks saja. Kalau perlu, buatlah secangkir kopi dan bawa dua-tiga potong roti sumbu.

Lelaki yang tinggal di pojok kampung dengan rumah yang terkesan menyendiri itu suka sekali mencium bau tanah. Pada awalnya penduduk desa tidak memberi perhatian sedikit pun. Mereka kira, lelaki tersebut sedang bahagia tak terkira sehingga dirasa perlu untuk melakukan sujud syukur. Bukankah kebanyakan kita begitu? Jika mendapat berkah atau rezeki yang bukan alang kepalang besarnya, spontan saja kita bersujud, berterima kasih pada yang Maha Pemberi rezeki.
Ada juga yang menyangka sekenanya, mengatakan lelaki tersebut sedang mengumpulkan cacing untuk umpan memancing di sungai yang melintasi kampung. Gerakannya mencium tanah memang seperti orang yang sedang menggali liang cacing. Tentu saja ini hanya perkiraan sekenanya. Soalnya, tidak ada yang benar-benar pernah melihat lelaki itu memancing.
Tetapi pada kenyataannya bukan begitu adanya. Lelaki tersebut memang senang mencium bau tanah. Entah kenapa.

***

Tidak banyak warga kampung yang mengetahui, atau sadar, ihwal keberadaan lelaki itu. Mungkin karena rumahnya yang terletak di pojok kampung dan agak menjorok hingga ke tubir jurang. Mungkin juga karena lelaki itu jarang sekali menampakkan batang hidungnya di hadapan warga kampung. Dalam rapat-rapat desa, seperti saat membahas rencana kerja bakti, penyuluhan kesehatan dari kecamatan, atau pengumuman dari kepolisian agar berwaspada terhadap pendatang baru, lelaki itu tidak pernah hadir.
Selain itu, jika seluruh warga tidak ada yang luput dari kewajiban ronda, meski bergilir, tidak lelaki itu. Dia dibiarkan saja tidak ikut menjaga keamanan kampung. Hal ini sempat menjadi selisih paham di kalangan penduduk.
“Tidak ada seorang pun yang boleh mendapat keistimewaan di sini. Jika dia tidak mau ikut peraturan di sini, lebih baik angkat kaki saja-lah. Memangnya dia siapa?” tukas Pak Karmin, salah satu petinggi desa yang cukup dihormati.
“Tapi dia itu termasuk orang yang sudah lama tinggal di desa kita pak. Mungkin sejak zaman kakek-kakek kita masih hidup. Kita hormati sajalah dia. Lagipula usianya sudah uzur. Toh, kalaupun ikut ronda apa sanggup dia mengejar garong?” ujar Pak Kades menenangkan.
Akhirnya, semakin lama makin menghilang pula kabar tentang lelaki itu. Seakan-akan dia tidak ada. Bahkan, andaikata dia matipun tidak akan ada orang yang tahu atau peduli.
Sampai suatu ketika ada seorang warga yang diam-diam memperhatikan kebiasaan lelaki itu; mencium bau tanah.

***

Perihal usia lelaki itu tidak pernah ada yang tahu. Jika benar apa yang dibilang Pak Kades bahwa dia hidup sezaman dengan tetua kampung masa silam, maka usianya tidak kurang dari 80 tahun. Masuk akal. Ini kelihatan dari lipatan kemerut yang terlihat jelas di sekujur wajahnya yang seperti kulit kayu. Kepalanya juga sudah dipenuhi uban. Potongan rambutnya yang agak cepak membuat kepalanya seperti terkena tumpahan putik-putik bunga jambu.

Penduduk desa belum pernah melihat orang lain di rumahnya, apakah itu istri atau anaknya. Mungkin juga dia tidak pernah mencecap pernikahan. Atau, boleh jadi, istri dan anaknya sudah meninggal semua. Jika benar dia hidup sendiri, lalu bagaimana dia menghidupi dirinya? Sepengetahuan warga, lelaki itu tidak bekerja apapun. Akhirnya, kisah hidup lelaki itu hanya menjadi bahan tebak-tebakan belaka, seakan-akan tebakan itu bakal berbuah uang jika benar, layaknya sebuah kuis saja.
***
Dia melakukannya setiap pagi. Lebih tepatnya ketika matahari baru menyembul di balik bebukit di sebelah timur desa. Pertama-tama, dia mendekati pagar rumahnya yang tingginya hanya sepinggang orang dewasa. Diam sejenak. Menarik napas. Lalu diletakannya tangannya di dadanya, mirip orang bersedekap. Setelah itu dia merunduk, seperti menepuk tanah dengan kedua telapak tangannya. Dan mulailah dia mencium tanah. Agak lama. Jika dikira-kira, sekitar setengah jam-an lah.
Selesai mencium tanah, dia kembali berdiri. Lalu menghirup udara dalam-dalam. Kemudian masuk lagi ke rumahnya, dan tiada keluar hingga keesokan hari, saat dia kembali menghirupi bau tanah.
Berawal dari satu dua orang, berita soal kebiasaan lelaki itu pun hinggap di telinga hampir seluruh penduduk desa. Jamak memang kalau di desa kecil. Akibatnya, semakin banyaklah orang yang ingin melihat lelaki itu menciumi tanah.
Setiap pagi, sebelum berangkat ke sawah, atau ke kantor aparatur desa bagi yang bekerja di situ, warga menyempatkan diri menonton lelaki itu. Kadang-kadang antriannya mengular sepanjang puluhan meter. Masing-masing hanya diberi kesempatan melihat dua-tiga menit saja. Tidak boleh lebih. Ini sudah menjadi kesepakatan antarpengintip. Mereka mengintai dengan bersembunyi di sesemak di samping rumah lelaki itu. Dari situ cukuplah kelihatan tindak-tanduk si orang tua.
Di kalangan warga juga ada semacam perjanjian. Dilarang bersuara saat menonton lelaki itu karena dikhawatirkan mengganggunya sehingga malah akhirnya urung mencium bau tanah. Konvensi ini dipatuhi saja. Toh, tidak ada susahnya diam itu.
Jadi, meski banyak orang berkerumun tidak terdengar riuh rendah sama sekali. Paling-paling suara derap kaki di tanah yang hanya lamat-lamat saja. Tidak akan terdengar oleh telinga uzur lelaki itu.
Tetapi pada suatu waktu, entah karena tidak tahan menutup mulut atau sekadar menguji kesabaran warga lain, seorang ‘penonton’ berteriak spontan: “Hei pak tua, apa yang sedang engkau lakukan!”
Demi mendengar teriakan tersebut, barisan warga sontak bubar layaknya helatan misbar yang diguyur gerimis. Penonton lain begitu kecewa dan tak henti mengutuki pengecut yang lempar batu sembunyi tangan tersebut. Lelaki tua tersebut juga tidak kalah kaget, dan seketika itu juga menghambur ke dalam rumahnya.
Setelah kejadian tersebut, penduduk desa tidak pernah lagi melihat lelaki itu menciumi tanah. Hampir tiap hari antrian yang mengular itu menanti-nanti saat lelaki itu melaksanakan kredo hariannya. Tetapi penantian tersebut sia-sia belaka. Rumah lelaki itu tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Jika siang tidak terdengar barang sekelebatpun suara, sedangkan pada malam hari tak terlihat barang satupun lampu menyala. Gulita saja kelihatannya.
Melihat gelagat tidak beres tersebut, warga kemudian bersepakat untuk mengunjungi rumah lelaki itu. Ini pun setelah melalui perdebatan dan adu mulut yang tidak kalah sengit dengan kelahi para wakil rakyat di parlemen.
“Sudahlah. Kita biarkan dulu barang beberapa hari. Mungkin tempo hari dia kaget karena ditonton orang banyak,” kata salah seorang penduduk dalam rapat di balai desa. “Tidak bisa. Kita harus cari tahu. Jangan-jangan dia sedang ngelmu, santet. Bapak-bapak sadar tidak? Beberapa hari terakhir di desa kita seperti ada penyakit aneh yang menyerang ternak kita? Ayam saya saja sudah sepuluh yang mati. Pak Kadir, lima. Pak Parmin, tiga. Jangan-jangan ini ulah orangtua misterius itu,” tukas Pak Jamil.
“Tapi, jika memang benar apa yang dikatakan Pak Jamil, apa tujuannya? Apa kepentingannya?”
“Ya, sebagai syarat ilmunya itu. Coba lihat. Dia hidup sendirian. Tidak bekerja apa-apa. Bagaimana bisa hidup kalau tidak dibantu dedemit?”
Balai desa bergemuruh oleh gumaman warga desa. Banyak di antara mereka mengangguk-angguk.
“Tenang...tenang. Jangan sampai desa kita jadi heboh seperti desa-desa lain. Cuma gara-gara fitnah seisi kampung jadi rusuh. Kita pakai kepala dingin, bapak-bapak,” Pak Kades berusaha menenangkan warga yang mulai panas kepalanya.
“Tapi, kalau nanti terjadi apa-apa lagi, jangan salahkan jika warga bertindak sendiri Pak Kades!” ujar Pak Jamil setengah mengancam. Rapat malam itu pun bubar. Beberapa warga tampak bersungut-sungut wajahnya. Pak Kades geleng-geleng kepala.
***
Setelah beberapa hari diberlakukan ‘hari tenang’, lelaki tua itu kembali melakukan kebiasaannya: mencium bau tanah. Tapi kali ini dia melakukannya agak tergesa-gesa. Keluar dari rumah, matanya mencoba menyapu sekeliling. Kalau-kalau ada orang yang mengintip. Setelah yakin aman, baru dia melanjutkan ritual paginya. Setelah selesai pun dia langsung lari terbirit-birit masuk rumahnya.
Kabar ini segera tercium oleh hampir seluruh warga. Tapi, kali ini mereka menahan diri. Jika terjadi apa-apa lagi pada ternak-ternak mereka, barulah mereka beraksi.
Pada suatu hari, seisi kampung heboh karena tiba-tiba saja banyak anak-anak yang sakit panas, demam, menggigil, dan kejang-kejang. Awalnya mereka mengira ini semacam wabah musim hujan yang biasa terjadi hampir tiap tahun. Makanya, para bapak tidak terlalu khawatir karena sakit semacam itu bisa diobati dengan dikompres air atau minum teh hangat. Tapi kali ini lain.
Selain panas badan yang tinggi, anak-anak itu juga menderita sesak napas yang amat sangat, seperti orang sakit paru-paru atau asma. Karena tidak tahu harus bagaimana lagi, warga berbondong-bondong menemui mbah dukun. Seketika itu mbah dukun kebanjiran pengunjung. Maklum saja, puskesmas terdekat di desa itu jaraknya seharian jalan kaki.
“Mmm, gonjang-ganjing dedemit amit roh hitam medit wayarasyarawasya, fyuhh...” begitu dukun komat-kamit sambil menyemburkan entah air apa ke wajah pasien-pasien.
“Sebenarnya anak saya sakit apa mbah?” tanya salah seorang warga.
“Mmm, sakitnya bukan dari badan anak sampeyan. Ada orang ‘iseng’ ini. Pasti,” ujar dukun lagi, sambil menggunakan isyarat dua tangan saat menyebut kata ‘iseng’. Satu-satunya jalan, imbuh mbah dukun, ialah menumpas orang tersebut.
***
Hampir kepada setiap pasien mbah dukun mengatakan hal serupa. Ini menambah keyakinan warga bahwa lelaki tua yang senang mencium bau tanah itu memang benar sedang ngelmu, dan menyebarkan teluh ke ternak dan bahkan anak-anak mereka.
Akhirnya, tanggul kesabaran warga ambrol. Mereka berbondong-bondong menuju ujung kampung, ke rumah lelaki tua yang senang mencium bau tanah. Pak Kades sudah berusaha mendinginkan emosi warga, tapi sia-sia belaka. “Sekarang Pak Kades nggak usah ikut campur!” kata warga bersahutan.
Warga yang sudah dirasuki amarah dan dendam gegap gempita menuju rumah si lelaki tua. Tidak ada satu pun yang tangannya kosong. Masing-masing membawa parang, kayu, atau pacul.
Sesampainya di tempat tujuan, dua-tiga orang langsung merangsek ke dalam rumah lelaki tua. Mereka keluar dengan menyeret si lelaki yang kebingungan sekaligus takut.

“Sss...saya mau diapakan?” tanyanya dengan suara bergetar. Penduduk yang lain bersorak, “Bunuuuuhhhh...!”

“Sudah, jangan banyak tanya. Gara-gara kamu, desa kita ketulah, kena wabah penyakit. Kamu dukun santet!”

“Bu...bu...kan. Saya bukan dukun santet.”

“Setiap pagi kamu cium tanah, apa namanya itu kalo bukan sujud ke dedemit, jin, hah?”

“Sss...saya cuma...”

“Alaaaah, hajarrrr!!!”

Semua kebagian menghajar lelaki itu. Saking sadisnya, rasanya tidak pantas bila aku gambarkan dalam cerita ini. Selesai membantai lelaki tua itu, warga beramai-ramai membakar rumahnya.

***

Sepeninggal lelaki tua, wabah penyakit bukannya hilang malah semakin menjadi-jadi. Bahkan seorang anak akhirnya meninggal. Di tengah kebingungan dan panik warga, Pak Kades memberi pengumuman bahwa seluruh warga diharap datang ke balai desa karena akan ada penyuluhan dari kecamatan.
Keesokan harinya balai desa dipenuhi warga yang cemas sekaligus penasaran. Di tengah rombongan kecamatan terlihat orang-orang berpakaian serba putih, seperti dari puskesmas atau rumah sakit. Setelah Pak Camat memberi pengantar ini-itu, barulah orang berpakaian putih, yang ternyata benar dari rumah sakit di kota, mulai berbicara.
“Bapak-bapak, ibu-ibu yang masih memiliki ayam, atau burung, kami harap bersedia menukarkan ayam atau burungnya kepada petugas kami. Nanti ada imbalan yang pantas.”
Warga saling berpandangan. Kelihatan bingung.
“Lho, memangnya kenapa pak dokter?” tanya salah seorang.

“Saat ini, ada penyakit baru yang sedang menyerang desa ini dan beberapa desa di kecamatan kita. Namanya flu burung. Penyakit ini menyebar lewat ternak unggas seperti ayam atau burung. Anak pak Dirman yang meninggal tempo hari diduga akibat penyakit ini juga.”
Balai desa seperti bergetar. Warga kembali berpandangan. Ada rona penyesalan dalam sorot mata mereka. Bisa dipastikan mereka teringat lelaki tua yang suka mencium bau tanah itu, yang sudah mereka bunuh karena tertuduh telah menyebar teluh.

Lalu, sebenarnya, kenapa lelaki tua itu senang mencium bau tanah? Terus terang saja, aku sendiri tidak tahu.***

Bekasi, 1/4/2006


Posted at 03:29 pm by Firman Firdaus
 

Tuesday, April 11, 2006
Risalah Waktu

Hidup itu benar cuma sepersinggahan pohon kurma, kawan
Menekuk-nekuk tarikh dalam leret peristiwa

Kadang kelam, kadang benderang

Waktu itu benar sebuah titi yang tidak selesai, kawan
Satu pertanyaan yang tidak berbuah paham
Seperti permainan yang baru diperkenalkan
Pada anak-anak yang haus
Dan segerombol unta di padang

Detak jarum detik jantung ketuk masa selalu mengejar, kawan
Sejak tubuh kanak hingga sampai kita pada masa
Kapan detak jarum detik jantung ketuk masa berhenti
:Begitu saja

Pada loronglorong perjalanan yang lain
Yang kita tidak tahu, kawan
Yang kita kadang tidak mau, kawan
Meski kita tahu meski kita paham meski kita tidak bisa
Mengatakan “tidak” untuk sekadar singgah, kawan
Meski.

Hidup itu benar cuma seperselisihan paham dengan pasanganmu, kawan
Coba saja kau putar ulang lagu lama itu pada pohon-pohon akasia
Yang pernah menjadi saksimu, kawan
Kejar, kejar dia, kawan

Benar. Hidup itu cuma sepenggalah rasa bahagia yang telah kau pilih, kawan

Kembalilah, kembalilah!
Anakmu memanggilmu, kawan
Peluk aku, peluk aku!
Istrimu memekik, kawan
Tunggangi aku, tunggangi aku!
Kudamu meringkik, kawan

Kenapa engkau masih belum juga mengerti, kawan
Kalau hidup cuma sepersekian detik sebenarnya
Berselisih dari mati!

FF~7/3/2006


Posted at 04:15 pm by Firman Firdaus
Komentar  

KUTU

Ketika kau memutuskan untuk menelan saja
getah-getah pohon perdu yang dahulu kau bilang manis
aku sebenarnya berusaha menenangkan kutu busuk yang bersemayan
dalam hatimu. Dia mencabik-cabik dinding ketenanganmu
dengan sebuah benda tajam serupa belah kelewang, berkali-kali
awalnya kau cuma merasa ada sesuatu benda yang bergerak-gerak
di tenggorokan, kerongkongan, jantung, liang kemaluan
lama-lama seiring waktu berlari engkau bilang tidak apa-apa
bila ada monster pun merobek-robek seluruh organ dalammu
karena kau bilang kini kau sudah terbiasa tidak menikmati keberadaan
organ-organ tubuhmu
tapi kau harus tahu, sayang, benar-benar harus kau sadari kalau
aku masih berusaha memperbaiki jantung, hati, pankreas, atau bahkan ususmu
yang telanjur terburai itu. Jika pun harus aku meminta bantuan seorang dokter ahli bedah yang paling piawai di kota keparat ini, pasti aku lakukan
tapi ternyata kau bilang masalahnya sekarang bukan lagi apakah tubuhmu bisa dipermak
tapi kau bilang apakah kutu busuk berkelewang itu bisa kugoda dengan makanan, misalnya. Kausuruh aku memancingnya dengan menawarkan hatiku, jantungku, atau kemaluanku agar dia mau keluar dari tubuhmu lalu berganti bersemayam dalam tubuhku
terus terang saja, sayang, kalau harus memelihara kutu busuk berkelewang itu dalam tubuhku, aku tidak sanggup
tapi aku sudah bilang aku akan tetap berusaha menenangkannya. Jika dia sudah tenang
akan aku rebut kelewang dari tangannya. Pelan-pelan saja, sayang
tapi engkau jelas-jelas tidak sanggup lagi sampai akhirnya kau telan getah-getah pohon perdu yang dahulu kau bilang manis itu
menurutmu saripati getah itu mampu membunuh kutu busuk berkelewang. Tapi bukankah getah itu juga bisa membunuhmu sayang?

tapi, ah, sudahlah. Aku tidak sanggup lagi menghadapimu. Ngomong-ngomong, sudahkah kau rasakan kutu berkelewang itu mati? Atau, jangan-jangan benar kau sudah mati?

~FF 30/3


Posted at 04:14 pm by Firman Firdaus
Komentar  

Pedang dalam lidah

Aku punya dua bilah pedang yang aku simpan dalam daging lidahku
pada pegangan salah satu bilah pedang yang aku tanam dalam daging lidahku bertatahkan hati orang-orang yang pernah kusakiti
pada pegangan pedang yang satu lagi berhiaskan hati orang-orang yang pernah menyakitiku
saking banyaknya tatah hati pada kedua bilah pedang yang kutanam dalam daging lidahku sampai-sampai aku sering merasa kesulitan jika ingin menggunakannya
darah dari hati-hati itu terkadang berceceran sehingga membuat pedangku licin
ceceran darah juga sering mengalir keluar dari daging lidahku sehingga dalam keadaan diam pun ujung-ujung bibirku selalu kelihatan berdarah, seperti habis dipukuli
kepada orang-orang yang belum mengenalku, kukatakan kalau darah tersebut berasal dari hati orang-orang yang pernah kusakiti dan hati orang-orang yang pernah menyakitiku yang aku tempelkan pada pegangan dua pedang yang aku simpan dalam daging lidahku
ha...ha...ha.... Begitu biasanya orang merespons jawabanku, lalu semua melengos begitu saja, seperti menganggapku orang gila layaknya
kepada orang-orang yang pernah kusakiti dan pernah menyakitiku juga kukatakan hal yang sama. Mereka tidak melengos, tapi buru-buru memegangi dada mereka yang tanpa mereka sadari ternyata sudah bolong. Setelah itu mereka beramai-ramai menangis seperti habis kehilangan barang paling berharga dalam hidup mereka

aku menggunakan kedua bilah pedang yang kusimpan dalam daging lidahku untuk mencungkil hati orang-orang itu. Nah, saudara-saudara, apakah ada dari saudara yang ingin menyakitiku atau, mungkin, ingin kusakiti?

FF~ 30/3


Posted at 04:13 pm by Firman Firdaus
Komentar  

Sedang bahagia

aku tak pandai melukis sedih
apalagi di atas secarik kertas
meski kau paksa dengan mulut berbuih
niatku sudah kandas, puas?

FF~30/3


Posted at 04:05 pm by Firman Firdaus
Komentar  

Wednesday, January 18, 2006
Vivere Pericoloso*

Cerpen Firman Firdaus

Engkau begitu bingung. Kepalamu sakit. Seperti ada yang menusuk-nusuk otakmu. Tubuhmu lampai seperti batang bambu, gontai. Kedua bayimu yang lucu-lucu menangis bersahutan, bising. Barusan saja suamimu memukulimu. Dengan alasan yang engkau sendiri tidak tahu. Dia menatahkan wajahmu dengan biru-lebam. Ditingkahi seringai seram. Engkau hilang akal. Pandanganmu menghitam. Sempat diam. Lalu…

***

Pada mulanya hanya sendiri. Sejak kecil engkau tiada berpunya ayah-ibu, juga kasih sayang. Ah, kasih sayang. Tai kucing! Katamu. Kasih dan sayang hanya untuk manusia. Engkau tidak lagi merasa sebagai bagian dari bangsa manusia. Bahkan semenjak kau masih ingusan. Engkau lebih nyaman disebut bangsa tikus. Ya. Tikus. Bukankah tikus hidup di selokan, seperti juga dirimu?

Yang harus engkau lakukan kemudian hanyalah bertahan hidup. Ini juga bukan karena engkau seorang yang optimis. Bukan sama sekali. Tapi karena menurutmu mati itu sakit. Lho, bukankah hidupmu juga sebentuk rasa sakit? Engkau mengangguk. Tapi aku yakin sekali kalau mati itu jauh lebih sakit, katamu. Karena itu, engkau pun mengamen di dalam bus kota—kadang-kadang di pintu angkutan umum—meminta-minta, dan mengais-ngais daging ayam yang masih menempel di tulangnya pada makanan sisa orang-orang kaya. Untuk bertahan hidup.

Dan ketika dadamu mulai berbukit bulat-bulat, pinggulmu berasa berkelok bak jam pasir, tak perlulah lagi kau mengamen, apalagi meminta-minta. Banyak lelaki dewasa sudah pasti bersedia bersegera mencicipi tubuh kencurmu nan ranum dengan imbalan yang lumayan. Engkau pun bersetuju.

Tapi, lama-kelamaan engkau merasa letih juga. Bagaimana tidak? Setiap malam, bahkan kadang pagi atau siang, engkau mesti menanggung beban tubuh lelaki yang menindihmu. Menahan bau sengak keringat-ketiak mereka yang mirip bocoran dari pipa gas asam pabrik lem. Menelan aroma alcohol dan bau mulut akibat plak yang menumpuk di gerigi mereka yang kekuning. Belum lagi rasa ngilu di vaginamu yang harus kau bungkus dengan sesenyum puas dan mata yang merem melek. Pastilah menyebalkan, bukan?

Gayung pun bersambut. Seperti dalam cerita-cerita sinetron, engkau pun bertemu seorang lelaki. Dia merasa simpati kepadamu. Dia merasa engkau lebih mulia ketimbang jadi budak nafsu. Menurutnya engkau memiliki sebentuk mutiara yang masih kusam dalam dirimu. Mutiara yang akan berkilau jika digosok oleh tangan yang tepat. Olehnya, katanya. Engkau tidak bertanya kepadanya bagaimana caranya.

Engkau, yang telah capek hidup menjadi tikus merasa kembali menjadi manusia. Memiliki rasa. Ya, rasa. Cinta, kata orang. Engkau jatuh cinta pada lelaki itu. Tidak peduli apa pekerjaannya, berapa penghasilan. Bukankah kata orang rezeki bakal datang belakangan?

Kalian pun berpacaranlah. Semuanya indah. Seperti tidak ada masalah. Lelaki itu mengajakmu menikah, engkau mengiya pasrah. Engkau bahagia. Sementara.

Jamaknya perkawinan seumur jagung, semua masih saja terasa indah. Makan bersama, mandi bersama, bercinta…tentu bersama. Rasa rindu yang menggelegak ketika salah satu dari dua sejoli pergi. Kalian pun merasakan itu semua.

Putri pertamamu pun lahir sudah. Kauberikan nama. Juga pakaian dan makanan. Suamimu mulai kewalahan. Dia bilang tidak cukup penghasilan. Kalian pun menjadi sering bertengkar ringan. Tapi lama-lama engkau bilang dia ringan tangan. Suka menempeleng, meski kaubilang masih tahan. Kau sering kesepian karena dia lebih sering ada di jalan.

Engkau begitu bingung. Kepalamu sakit. Seperti ada yang menusuk-nusuk otakmu. Tubuhmu lampai seperti batang bambu, gontai. Bayimu yang lucu menangis bising. Barusan saja suamimu memukulimu, lagi. Dengan alasan yang engkau sendiri tidak tahu. Dia menatahkan wajahmu dengan biru-lebam. Ditingkahi seringai seram. Engkau hilang akal. Pandanganmu menghitam. Sempat diam. Lalu…

Belum lagi putri pertamamu menginjak dua tahun, telah lahir putrimu yang kedua. Lucu sekali katamu. Kauberikan dia nama. Juga pakaian dan makanan. Suamimu sudah keluar dari pekerjaan. Sekarang dia pengangguran. Engkau mencari jalan. Kalian kembali ke selokan. Lagi, engkau menjelma tikus.

Engkau kembali mengamen di dalam bus kota—kadang-kadang di pintu angkutan umum—meminta-minta, dan mengais-ngais daging ayam yang masih menempel di tulangnya pada makanan sisa orang-orang kaya. Untuk mempertahankan hidupmu, dua putrimu, dan satu suamimu.

Dan ketika dadamu mulai mengendur, bentuk pinggulmu tak lagi teratur, engkau tetap mencari seseorang untuk diajak tidur. Engkau bilang masih banyak lelaki yang suka dengan tubuh yang tak lagi kencur. Engkau menjadi ibu yang lacur, demi dua putrimu dan suamimu yang menganggur.

Saban pulang pagi hari, selalu kau dapati dua putrimu menangis sedang suamimu pulas tidur. Tidak bosan-bosan engkau merasa murka kepada suamimu, seperti juga tidak bosan-bosan suamimu menatahkan biru-lebam di mukamu. Suatu ketika engkau bilang sudah tidak tahan lagi. Tapi seketika itu pula kau tidak mampu melepaskan diri. Engkau begitu mencintai dua putrimu, tapi tidak kuasa berpisah dengan kekejaman suamimu.

Kali ini malam begitu muram. Tidak ada bintang menemani awan yang sudah menghitam. Bulan muncul diam-diam. Angin padam. Tetapi tidak di tempat itu. Lampu hidup begitu terang. Musik mengalun kencang. Suara seperti itu konon membakar berahi lelaki hidung belang. Asap rokok melayang-layang. Keluar dari bibir-bibir hitam perempuan jalang.

Semua wajah kelihatan segar. Atau, disegar-segarkan. Pun wajahmu. Bibirmu masih mengilap karena kau pulas, seperti habis kau jilati. Malam ini tumben sepi. Biasanya, saat jarum panjang dan pendek jam dinding bersetubuh pada angka 12 setidaknya sudah dua lelaki kau layani. Tetapi tidak ini kali.

Sesekali lamunanmu membawamu ke rumah. Pada wajah menggemaskan dua putrimu. Kadang bersijingkat mengingat muka suamimu. Engkau merasa jijik. Tiba-tiba engkau ingin sekali membunuhnya. Ya. Kenapa tidak kubunuh saja dia? Katamu dalam hati. Tapi bagaimana? Tangannya begitu kokoh. Urat-uratnya berkelindan seperti pagar kawat di depan istana. Sekali cengkeram saja sudah tersungkur aku, katamu. Tapi engkau dapat ide. Bisa kaubunuh dia dengan racun. Seperti matinya seorang penegak HAM di negeri busuk ini. HAM? Tai kucing lah, katamu.
Engkau tahu persis suamimu suka sekali minum kopi pahit begitu bangun tidur. Engkau akan memasukkan racun tikus ke dalam kopinya. Ya. Engkau akan membunuhnya. Pelan-pelan saja. Tidak perlu panik.

Tiba-tiba suara mucikari itu memanggilmu, memecah lamunanmu. Malam ini kau tidak pulang dengan tangan hampa, katanya. Ada lelaki belang hidung sudah menunggu di kamar atas. Engkau sukacita. Sekali lagi engkau becermin pada kaca kecil yang ada di genggamanmu. Seperti memastikan kalau bibirmu masih basah mengilap.

Engkau meniti tangga. Pintu kamar kau buka. Engkau dan lelaki itu kaget setengah mati. Mata kalian tegas bersitatap. Kalian ternyata sudah saling kenal. Jelas saja, karena kalian suami-istri. “Apa yang kau lakukan di sini?” katamu. “Apa yang kau lakukan di sini?” katanya. Kalian kemudian pulang dengan membawa amarah sepenuh hati.

Sesampai di rumah engkau dihadiahi tendangan, pukulan. Berkali-kali. Kedua putrimu yang sedari tadi pulas terpaksa bangun. Menangis. Bukan. Meraung-raung. Engkau mencoba menenangkan mereka, tapi tangan suamimu begitu kuat mencengkerammu. Engkau terjerembab. Engkau ingin melawan. Engkau ingin membunuh suamimu. Tapi engkau tidak sanggup. Engkau lemah. Karena engkau perempuan. Tapi engkau begitu marah. Begitu marah. Anak-anakmu masih menangis.

Engkau begitu bingung. Kepalamu sakit. Seperti ada yang menusuk-nusuk otakmu. Tubuhmu lampai seperti batang bambu, gontai. Kedua bayimu yang lucu-lucu terus saja menangis bersahutan, bising. Suamimu memukulimu, lagi. Dengan alasan yang engkau sendiri tidak tahu. Dia menatahkan wajahmu dengan biru-lebam. Ditingkahi seringai seram. Engkau hilang akal. Pandanganmu menghitam. Sempat diam. Lalu…

Engkau meraih jeriken minyak. Engkau lumurkan isinya ke sekujur tubuhmu dan tubuh kecil dua putrimu. Engkau marah. Anakmu menangis. Engkau lemah. Suamimu kuat. Engkau ingin melawan suamimu. Anakmu menangis. Suamimu begitu perkasa. Engkau begitu tak berdaya. Engkau marah karenanya. Anakmu menangis. Geretan bernyala api. Pula tubuhmu sejurus kemudian. Engkau menghambur ke kedua putrimu. Engkau memeluk mereka. Erat. Pagi belum lagi tiba.***

Jakarta, 14/01/2006

*Ungkapan dalam bahasa Italia, artinya kira-kira hidup secara berbahaya. Dalam khasanah bahasa Italia sendiri istilah ini tidak dikenal. Di Indonesia, istilah ini dipopulerkan (mungkin juga diciptakan) oleh Bung Karno pada 1965.


Posted at 01:50 pm by Firman Firdaus
Komentar  

Tuesday, December 20, 2005
Ayah

Cerpen Firman Firdaus

DIA Ayahku, dan aku mencintainya. Sangat. 

Aku masih ingat ketika dulu sekali, dia bersusah payah membuatkanku sebuah layang-layang. Dia tahu aku pengin sekali menerbangkan layang-layang seperti teman-temanku.  Tapi aku tidak pernah memintanya membuatkanku layang-layang. Ayah teman-temanku pun tidak pernah membuatkan mereka layang-layang. Mereka cukup membeli saja.

Ketika kutanya kenapa Ayah tidak membeli saja layang-layang buatku, Ayah hanya tersenyum. Aku tidak mengerti, menurut saja. 

Aku juga ingat Ayah pernah melamun, panjang sekali. Itu setelah ibu pergi entah ke mana. 

“Ayah, Ibu pergi ke mana?” tanyaku. Tiada jawabannya kecuali gelengan kepala. Setelah itu Ayah tertunduk. 

Sejak saat itu, kami pun melalui hari-hari berdua saja, tanpa ibu. Untungnya kami memiliki tetangga yang baik-baik. Hampir tiap hari mereka mengantarkan makanan ke rumah. (Ah, tidak pantas rasanya susunan kardus-kardus kubus dan plastik itu disebut rumah. Gubuk tepatnya).  

Makanan yang diantar bukan cuma penganan kecil, melainkan nasi beserta lauk-pauknya. Kadang ikan, kadang ayam kecap. Tapi lebih sering sekadar sup plus tahu atau tempe. Tapi bagi kami itu sudah cukup. 

Suatu ketika Ayah menolak pemberian dari para tetangga. 

“Maaf  bu. Bukannya saya tidak berterima kasih atas pemberian ibu-ibu. Bukan pula saya sok jual mahal. Tapi rasanya saya dan Abid tidak bisa menerima pemberian ibu-ibu lagi. Kami mohon maaf,” katanya. 

Ibu-ibu yang baik hati itu hanya tersenyum. “Maksud kami baik kok pak Ramdan. Tapi kalo keinginan Pak Ramdan begitu, ya tidak apa-apa. Kami bisa ngerti.”  

Aku tidak mengerti kenapa Ayah menolak makanan pemberian itu. Ketika kutanyakan kenapa Ayah menolak rezeki itu, tiada pula jawabannya kecuali sekadar senyum. 

Setelah itu, wajah Ayah mendadak serius. “Mulai besok kita cari uang sendiri,” katanya. Aku tidak tahu apa maksudnya. Yang jelas, esok hari menjelang siang Ayah menyuruhku bersiap. 

Ayah memberi aba-aba agar aku menuntunnya. Ya. Ayah memang buta. Tapi baru kali ini dia memintaku untuk membimbingnya. Dia biasa berjalan pakai tongkat buatannya sendiri. Mungkin sebelum aku lahir tongkat itu sudah ada. 

“Kita ke mana Ayah?” tanyaku.

“Ke lampu merah, Bid.”

“Ngapain ke sana?”

“Nanti kalau ada mobil yang berhenti di lampu merah, kamu sodorkan tangan Ayah ke jendela mobil. Terus, kamu ngomong begini: Paaakk, tolong pak. Buuu tolong bu. Begitu ya.” 

Di kemudian hari aku tahu kalau yang kami lakukan ialah mengemis, meminta-minta. Lama-kelamaan aku pun terbiasa dengan pekerjaan ini. Sebagian teman mainku kemudian sering mengejek. Aku dipanggil gembel, gelandangan, dan lain-lain. Aku tidak peduli. 

Tapi pernah suatu kali Bencut menyebut Ayahku ‘si buta’, sambil mulutnya mencong-mencong. Langsung saja kutinju hidungnya sampai berdarah. Dan dia pun pulang ke rumah sambil menangis. Tak ada yang boleh mengejek ayahku! 

Beranjak remaja, aku mulai bosan mengemis. Selain kaki pegal-pegal, hasilnya pun tak seberapa. Lalu ketika aku lihat teman-teman sebayaku pergi sekolah, seketika itu juga aku kepengin sekali sekolah. 

“Ayah, Abid pengin sekolah,” pintaku mememek-memek.

“Buat apa sekolah?”

“Kayak teman-teman. Belajar matematika, IPA.”

“Iya, belajar itu buat apa?”

“Ya biar pinter lah Yah,” aku mulai tak sabar.

“Terus, pinter itu buat apa?” 

Pertanyaan terakhir dari Ayah tidak mampu kujawab. Keesokan harinya, sepulang dari mengemis, aku ngobrol-ngobrol dengan Rudi. Dia temanku. Rumahnya memang jauh di dalam kompleks, bukan di lingkungan pinggiran seperti aku dan beberapa orang tua yang juga gelandangan. Tapi Rudi sering main ke sini. 

“Rud, pintar itu buat apa sih?”

“Ah, elu. Ngapain sih nanya-nanya gituan?”

“Ya tanya aja. Buat apa sih pintar itu?”

“Mmm, buat cari uang yang banyak.”

“Terus, uang yang banyak itu buat apa?”

“Ya buat beli macam-macam. Baju, sepatu, motor, mobil, rumah.”

“Jadi orang kaya dong?”

“Iya.”

“Kamu sekarang sekolahnya kelas berapa Rud?”

“Kelas dua SMP.” 

“Pintar itu biar jadi orang kaya Yah, kayak Rudi,” laporku pada ayah, ibarat prajurit yang melapor pada komandannya.

“Terus, kalo kaya buat apa?”

“Ya biar bisa beli macam-macam. Kita kan nggak punya apa-apa. Makan aja susah. Rumah gubuk begini. Kalo hujan Abid dan Ayah sering kebasahan. Kalo kaya, kan bisa beli rumah yah.” 

Menurut perasaanku, jawabanku itu menyakitkan hati Ayah. Tak berapa lama setelah itu, kulihat Ayah murung sekali. Tidurnya menerawang ke atap-atap kardus. Sesekali dia membolak-balikkan badannya ke kiri, ke kanan. 

Suatu kali, di gubuk yang reot itu Ayah menangis, meski matanya yang buta terus saja mengatup. Dan dia berusaha menahan suara tangisnya agar tak terdengar olehku. Mungkin dia kira aku sudah tidur.  

Belum Ayah. Aku belum tidur. Diam-diam aku melihat tubuhmu yang renta bergetar menahan pilu. Kudengar pula engkau menyebut nama ibu, dan betapa cintanya engkau pada wanita itu, meski dia meninggalkan kita tanpa pesan. Aku tahu semua Ayah. Aku tahu.   

Mulai saat itu, kuputuskan untuk melakukan apa saja agar menjadi kaya. Tak peduli ayah setuju atau tidak. 

Di sela-sela waktu istirahat mengemis, ada seorang pria mendekatiku. Tanpa sepengetahuan Ayah, dia menawarkanku pekerjaan. Caranya, bukan mengemis seperti yang aku dan Ayah lakukan.

 “Kamu cuma antar barang aja. Nanti barangnya om kasih.”

“Tapi saya harus antar ke mana om?”

“Nanti alamatnya om kasih. Kalau kamu nggak tahu, kan bisa tanya orang?” 

Tanpa pikir panjang lagi, aku terima tawarannya. Keesokan harinya, aku menolak ikut Ayah mengemis. Dia bingung. Aku tahu. Sedih? Mungkin. 

Uang hasil mengantar barang itu ternyata lumayan. Jauh lebih besar dari sekadar mengemis. Ayah senang sekaligus bingung dari mana aku mendapat uang sebanyak itu. Kujelaskan; dari hasil mengantar barang. 

“Jadi, kamu sekarang sudah bekerja jadi kurir?” tanya Ayahku.

“Ya begitulah Yah.”

“Hebat kamu, Abid.” 

Mungkin Ayah akan menarik perkataannya kalau dia tahu barang yang kuantar ialah barang terlarang. Aku pun baru tahu setelah bertahun-tahun bekerja dengan Om Herman, nama orang yang waktu itu menawarkan pekerjaan ini. Om Herman mengaku salut dengan kesetiaanku. Kemudian dia uraikan semua rahasia bisnisnya, dan memintaku tetap tutup mulut jika masih ingin bekerja. 

Tentu aku masih ingin bekerja. Aku mau kaya. Dan terus terang saja aku tidak peduli yang namanya barang terlarang, narkotik, heroin, ganja, shabu, atau apalah. Aku cuma mau cari uang. Aku cuma mau kaya. Aku tidak mau Ayahku yang buta menyusur jalan dengan tongkatnya. Terkadang dia terpeleset, jatuh, tapi tidak ada orang yang peduli.

Tidak jarang kaki, badan, dan sebagian wajahnya kecipratan air kalau ada mobil lewat, dan si pengendara seakan tidak peduli. Dianggapnya Ayahku itu sampah saja. Ini dia punya cerita. 

Tapi, dia bukan sampah. Dia Ayahku, dan aku mencintainya. Sangat.***

Jakarta, 7 Juli 2005


Posted at 03:16 pm by Firman Firdaus
Komentar  

Cerita Rini

Cerpen Firman Firdaus 

RINI tidak pernah berhenti menulis. Kata-kata mengalir begitu saja dari benaknya. Bila sudah begitu, dia pasti mencari-cari benda apapun yang bisa digunakan untuk menulis, dan tempat macam mana pun untuk ditoreh. Pernah suatu ketika Rini sedang di dalam bus. Tiba-tiba saja keinginannya untuk menulis timbul. Lalu, dia memanggil tukang pulpen asongan yang kebetulan menjajakan dagangannya di atas bus, membeli pulpen, dan mencoret-coret bagian belakang kursi bus di hadapannya dengan wajah sedikit menyeringai layaknya hendak menyeruput setetes air di tengah padang gersang, tanpa rasa malu, apalagi takut. Yang ditulisnya; “Aduh, kasihan banget keluarga itu, kenapa nggak ada yang nolongin yah?” Itu saja. Diam lagi, menerawang. Senyap.

Sejak kecil, usia dua setengah atau tiga, Rini sudah terlihat aktif mencorat-coret. Waktu itu dia hanya bisa membuat bentuk. Tidak begitu jelas apa yang dibuatnya. Wajar saja, masih kecil. Terawangnya tidak berlogika. Ibunya sempat pusing melihat dinding rumahnya yang putih bersih harus dikorbankan, dan akhirnya memaksanya membeli kertas dan buku-buku menggambar, ditambah pensil warna-warni. Tetapi, konon anak yang suka corat-coret akan menjadi anak cerdas kelak. Ibunya paham, mengerti kebiasaan Rini. Maka dibelikannya Rini alat tulis dan kertas lebih banyak lagi.Setelah bisa menulis, sekitar kelas 1 sekolah dasar, Rini lebih banyak menulis ketimbang menggambar. Setiap tulisan yang dibuatnya tidak pernah lebih dari empat kalimat. Seringkali diakhiri dengan tanda tanya, seakan-akan dalam otaknya tersimpan ribuan misteri yang rindu diungkap. Rini memang tidak tidak pernah mengerti. “Kenapa sih Pak Johan kalo pulang sekolah selalu bareng sama ibu Yeni? Dan banyak lagi pertanyaan sejenis. Rini tidak pernah berhenti menulis, dan bertanya.

***

Menjelang remaja, Rini tumbuh menjadi anak yang lebih ceria. Mungkin karena pergaulan. Meski demikian, dia tetap setia pada kebiasaannya menulis, seperti menulis di belakang jok bus itu.

Kini, tulisannya lebih panjang, mirip sebuah cerita pendek. Rini sendiri tidak pernah tahu bagaimana dia bisa begitu mudah menyampaikan apa yang ada dalam isi kepalanya. Sementara, Dina, kawan karibnya, butuh berhari-hari untuk menyelesaikan sebuah cerita pendek.

Teman-temannya sering membujuknya mengirim tulisan-tulisan dan cerita-cerita Rini ke koran atau majalah. Awalnya, Rini menolak, karena merasa tulisannya jelek. Tidak ‘nyastra’, dan pasti tidak akan layak muat di koran. Lebih mirip diari, buku harian, atau jurnal, meski tidak (perlu) rahasia. Kebanyakan menceritakan kehidupan orang lain, dengan gaya bertutur yang lugu.

Tetapi, lama-kelamaan Rini luluh. Ia mulai merapikan tulisan-tulisannya. Dina bersedia membantu mengetikkan naskah, sementara Rini mendiktekannya. Jika dikumpulkan sebenarnya cerita pendek buatan Rini mencapai puluhan, belum lagi tulisan-tulisan pendeknya. Tetapi setelah dinilai Dina, meski merasa tidak layak menilai, terkumpullah tiga cerita.

Cerita pertama adalah kisah sedih seorang anak yang ayah-ibunya tewas terpanggang dalam suatu peristiwa kebakaran. Dalam tulisan tersebut, kronologi peristiwa ditulis demikian cermat, dan semua masuk akal. seakan-akan sang penulis mengalami sendiri kejadiannya, dan mengamati kebakaran detik per detik. Lebih mirip sebuah laporan jurnalistik sebenarnya.

Cerita kedua yang (menurut Dina) bagus adalah kisah pembunuhan, lebih tepat disebut pembantaian, satu keluarga. Ayah, ibu, dan tiga orang anak (salah satunya balita) dalam keluarga tersebut tewas mengenaskan, leher hampir putus. Rini tidak merinci kengerian di sana. Yang ditulisnya lebih banyak mengulas latar belakang sampai akhirnya pembunuhan terjadi. Lebih mengupas sebab. jadi, menurut Dina, tulisan ini tidak mengeksploitasi kekerasan. Dan, menurutnya, layak muat. Rini sendiri tidak begitu mengerti. Acuh saja, terserah Dina.

Cerita ketiga adalah kisah perselingkuhan. Kali ini cukup detail, meski tidak porno. Dalam cerita dikisahkan keluguan seorang istri, sehingga dapat dengan mudah dibohongi sang suami yang selingkuh. Tetapi, setelah mengetahui si suami selingkuh, keluguan sang istri berubah amarah. Amarah yang bangkit tiba-tiba dari alam bawah sadarnya, dan semerta-merta membunuh suaminya.

 “Tiga ini emang yang paling bagus, menurut gue,” begitu kata Dina. Rini mengiyakan, tidak terlalu antusias. Beberapa waktu kemudian, muncul nama Rini Agustina dalam rubrik cerpen koran ibukota. Judulnya ‘Anak Api’. Dina yang memberi judul. Di bagian akhir tulisan, tercantum profil singkat penulis; Pelajar SMA. Rini senang bukan main. Baru kali ini dia merasakan dapat uang hasil jerih payahnya sendiri. Dia menunggu dua tulisan lainnya diterbitkan.

Benar saja. Minggu berikutnya, di koran lain, Kembali muncul nama Rini Agustina, juga dengan profil pelajar SMA itu. Kali ini tulisan tentang perselingkuhan yang berbuah kematian sang suami di tangan istrinya sendiri.

Sekali lagi, Rini gembira bukan kepalang. Mungkin juga tidak habis pikir. Dina ikut gembira, seakan berempati. Sesekali merasa kagum pada sohibnya itu. Dan, seakan dapat ditebak, tulisan Rini yang ketiga kembali muncul di koran yang sama dengan koran yang memuat tulisan pertamanya.

Dengan tiga cerpen yang muncul di koran, nama Rini menjadi akrab bagi kalangan penulis-penulis dan pengamat sastra. Tulisannya dibahas dalam kolom-kolom esai atau kritik sastra. Ada yang pro, ada yang kontra, biasa. Kebanyakan menilai tulisannya spontan dan lugu, tapi mengandung kedalaman. Seperti seorang jurnalis yang melakukan investigasi atau in-depth report terhadap suatu kasus. Tulisan-tulisannya tidak dibumbui deskripsi-deskripsi yang dibuat-dibuat dan dicari-cari, layaknya sebuah karya sastra. Sederhana saja, ringkas tapi lengkap. Terkadang kelam dan sedih. Ini yang membuatnya istimewa.

***

Sore itu, seperti biasa, Rini membaca koran pagi yang belum sempat dibacanya karena harus bersekolah. Dia tertarik dengan headline berita tentang kebakaran yang terjadi di Jakarta Utara. Hanya satu rumah yang terbakar. Dua orang tewas terpanggang, suami-istri. Beruntung, si anak, yang berusia enam tahun selamat, meski terluka bakar di sana-sini.

Sejurus kemudian, Rini membalik halaman dan sampailah dia di halaman kriminalitas. Ada dua berita yang benar-benar menarik perhatiannya. Pertama berita besar soal pembantaian sebuah keluarga. Ayah, ibu, dan tiga orang anak, salah satunya balita, menjadi korban pembunuhan keji. Penyebabnya menurut penyelidikan sementara adalah dendam keluarga. Sampai situ, Rini masih menahan napas. Ada sesuatu yang mencekat lehernya, namun dia masih mencoba mengalihkan pandangannya pada berita lain.

Pada halaman yang sama, dengan pandangan yang agak kosong, dan napas tergopoh-gopoh. Rini membaca judul ‘Istri Bunuh Suami Selingkuh’. Kali ini Rini tidak bisa menahan dirinya, dan tiba-tiba lunglai. 

Jakarta, 13 Juli 2004

 

 


Posted at 03:13 pm by Firman Firdaus
Komentar  

SAKIT

Cerpen Firman Firdaus 

“KARENA aku sakit.” 

Begitu Reno bilang saat kutagih dia untuk menikahiku. Waktu itu aku tak mampu mengorek lebih banyak informasi mengenai penyakitnya. Aku juga sudah bilang kalau aku bersedia mendampinginya sepanjang sisa hidupnya. Itu jika dia benar-benar sakit. Aku kadung jatuh cinta pada laki-laki itu. Apa pun akan kulakukan untuk dia. Agar tetap bisa bersama dia. Jika hidup harus bersama, apakah mati juga tidak bisa harus bersama? Bukankah Juliet bersedia menemani Romeo yang mendahului mati? 

*** 

SETELAH pertemuan terakhir yang membingungkan itu, Reno tidak lagi sering menghubungiku. Aku menangkap kesan dia sedang berusaha menghindar dariku. Aku cemas sebenarnya. Cemas dengan penyakitnya. Sekali lagi, itu jika dia benar-benar sakit. (Ah, kenapa aku sulit percaya dengan alasannya itu?).

Aku mencoba menginventarisasi—dari berbagai sumber—penyakit apa saja yang biasanya menghalangi seseorang untuk menikah. Kebanyakan penyakit menular. 

Kemudian temuanku mengerucut pada penyakit yang bisa ditularkan lewat hubungan seksual. Atau penyakit yang dikhawatirkan ditularkan kepada janin yang dikandung seorang wanita. Tapi ini kan untuk wanita? Atau, mungkinkah Reno terkena penyakit kelamin? Tapi tentu kemungkinannya bukan hanya itu. Kalau begini bahkan bisa ribuan kemungkinan. Bisa saja dia terkena penyakit akut, sehingga dia khawatir jika harus meninggalkanku begitu kami menikah. Tapi (jika benar demikian) aku tidak peduli. Aku telanjur cinta padanya. Cinta mati. 

Masih penasaran, aku mencoba menghubungi telepon genggamnya. Tapi, seringkali aku membentur nada sibuk atau suara lembut wanita bernama Veronica, yang cuma memberi tahu kalau handphone Reno sedang tidak aktif. Kutelepon rumahnya selalu tidak ada yang mengangkat. Pernah sekali waktu ibunya yang mengangkat telepon. Tapi jawabannya selalu sama, “…tidak tahu, mungkin masih di jalan.” Kutelepon kantor, meeting. Tetapi, setidaknya aku tahu dia belum meninggal.  

Ah, kenapa aku berpikir sejauh itu? Pikiranku mulai kalut. Aku merasa ada yang tidak beres. Jangan-jangan, Reno tergoda wanita lain? Yang lebih cantik dari aku. Lebih seksi. Lebih kaya. Lebih cerdas. Reno selalu mendamba wanita cerdas, yang bisa mengimbanginya dalam berpikir. Reno memang melankolis sejati. Sedang aku kebalikannya, wanita sanguinis. Sedikit berpikir tapi banyak tertawa. Tapi, bukankah dia bilang kalau hatinya selalu nyaman saat bersamaku? Aku adalah pelengkap pribadinya yang suram, katanya. Aku membuatnya bahagia di saat dia sedang sedih. Bayangkan jika aku juga seorang melankolis? Lagipula, buat apa kecerdasan jika tidak bisa membuat nyaman? Toh, aku juga tidak bodoh-bodoh amat. Atau wanita lain itu memang serba bisa? Cerdas sekaligus bisa membuatnya nyaman? Ah

*** 

DARI hari ke hari aku seperti membenarkan apa yang pernah dikatakan teman-temanku, terutama sahabatku Indri, yang selalu mewanti-wanti agar aku waspada jika berkenalan dengan lelaki lewat internet. Ya, aku memang mengenal Reno lewat internet. Empat tahun lalu. Lewat sebuah perbincangan yang menarik, nyambung, penuh tawa, kadang mesti mengernyitkan dahi karena serius. “Tetapi tetap saja kita tidak pernah tahu persis bagaimana kepribadian seseorang di dunia maya,” begitu tandas Indri. Jangankan hanya lewat internet, lanjutnya, terkadang kita masih bisa tertipu oleh sifat asli sahabat sendiri. 

Memang, setahuku banyak kasus para penjelajah internet memiliki kepribadian yang tidak standar, unik. Tapi unik tidak berarti buruk kan? Buktinya banyak pula pasangan yang akhirnya menikah setelah berkenalan lewat internet. Dan awet. Sebaliknya, tidak sedikit pasangan yang pacarannya jauh lebih lama dari usia pernikahannya. Jodoh memang selalu tidak bisa ditebak. Seperti juga mati. Aku pernah berdiskusi dengan Reno, mengapa Tuhan merahasiakan jodoh, rezeki, dan mati. Reno dengan simpel menjawab: agar manusia tetap optimis. Bikin hidup lebih hidup, katanya. Kayak iklan. Reno, aku kangen kamu (kataku sambil menerawang).

“Pokoknya kamu tetep harus hati-hati,” begitu biasanya Indri mengakhiri terawangku.

Tetapi, jika dipikir-pikir, toh aku sudah menjalani pendalaman kepribadian selama setahun bersama Reno. Artinya, aku tidak benar-benar buta akan kepribadiannya. Yang kutahu dia lelaki jujur, sedikit romantis. Sederhana dalam berpenampilan, tapi kritis berpikir. Dan seingatku dia punya seorang sahabat bernama Rindra. Ah, aku tahu. Akan kutanyakan pada Rindra perihal Reno.

***

“Halo, ini Rindra?”

“Hai, pa kabar Lis?”

Kok tahu ini aku?”

“Itulah hebatnya teknologi Lis. Aku kan sudah nge-save nomormu, gimana sih kok lupa?”

“Oh, iya. Maklum, gaptek Ndra. Gagap teknologi. Aku baik-baik Ndra. Sehat. Kamu gimana kabarnya? Masih di Caltex? Udah kaya raya beluuumm?” Aku mencoba santai. Rindra memang enak diajak santai.

“Hahaha. Bisa aja kamu. Masih, masih. Wong cuma kuli, mana bisa kaya raya?”

“Hehe. Eh, Ndra. Kamu tahu kabarnya Reno?”

“Loh, kok malah tanya aku? Bukannya kalian yang sedang pacaran? Aku udah lama gak kontak-kontak dia. Memangnya dia ke mana?”

“Itu dia, Ndra. Dia ngilang gitu aja.”

“Kok bisa? Kalian berantem? Atau, jangan-jangan sudah putus?”

“Terakhir sih dia ngomong-ngomong soal nikah. Intinya dia mau bilang kalo dia nggak bisa nikahi aku, karena dia sakit. Kamu tahu dia sakit apa Ndra?”

“Mmm, apa ya? Panu paling. Hahaaha. Atau sakit jiwa?”

“Aku serius Ndra.”

“Aku gak tau, Lis. Tapi nanti aku coba hubungi dia.”

***

“KAMU harus benar-benar membuat pilihan, Ren. Pikir masak-masak, mana keputusan yang paling baik buat kamu.”

“Aku sudah mencoba tapi tetap nggak bisa.”

“Ya sudah. Kita jalani aja. Tapi aku kasihan sama Lisa. Gara-gara kamu dia jadi menderita.”

“Aku sudah mengorbankan satu tahun waktuku, hidupku, untuk menyembuhkan diri. Tapi kenyataannya aku masih tetap sakit. Mau gimana lagi?”

“Saat kamu jalan sama Lisa, sempat terapi?”

“Nggak. Terapis itu sok tahu.”

“Hahaha. Dasar keras kepala.”

“Tapi suka kan?”

“Iya sih…”

***

SETELAH satu tahun berpisah dari Reno, baru aku benar-benar bisa pulih dari rasa kehilangan. Aku tidak lagi terlarut. Lagi pula aku ini masih muda. Masih cukup cantik untuk dilirik pria lain. Dan, yang terpenting, aku mesti melanjutkan hidup. Masa’ gara-gara putus cinta aku harus kehilangan segala-galanya? Nggak usah yah…Naluri sanguinisku tentu tidak mengizinkan sedih yang berpanjang.

Aku pun melanjutkan kebiasaan-kebiasaan saat masih single dulu. Kumpul bareng teman-teman, jalan-jalan ke toko buku, bersih-bersih kamar, lebih banyak meluangkan waktu bersama mama dan papa.

Dan, di suatu siang yang biasa-biasa saja di Gramedia Plaza Senayan, saat aku sedang serius membolak-balik cover buku, suara itu menyapaku. Lembut saja. Suara Reno.

“Lisa?”

(Tuhan memang jahat. Sejahat-jahatnya. Saat aku sudah melupakan laki-laki yang pernah kucintai dengan sangat, yang bahkan aku rela mati untuknya, kenapa Dia malah mempertemukanku kembali? Apakah dipikirNya aku menjadi bahagia karenanya?)

“Reno?” Aku agak tercekat sebenarnya.

“Kamu sudah sembuh? Katanya sakit?” sambungku, setengah menguliti wajahnya, kalau-kalau ada rona kebohongan. Tapi, belum lagi dia jawab pertanyaanku seorang lelaki menghampiri Reno sambil tersenyum. Dan Reno memperkenalkannya kepadaku.

“Lis, perkenalkan. Ini Ray, kekasihku.”

Entah kenapa, aku lega.***

Bekasi, 17 Oktober 2004


Posted at 03:08 pm by Firman Firdaus
Komentar  

Lelaki yang Terbang Melintasi Aceh

Cerpen Firman Firdaus

(dimuat dalam antologi cerpen tsunami 'Perempuan Bermata Lembut', FBA Press 2005) 

KUDENGAR jerit pilu dari Meulaboh, sejenak kemudian memudar-tertelan. Kini kuhirup aroma anyir darah-daging membusuk mengeruap di selokan dan trotoar Uleleu. Kulihat pula tubuh-tubuh menggantung di pohon akasia, kabel listrik, atap-atap rumah, semua pasrah tak bernyawa di Calang. Ya Tuhan…Sedemikian cepatkah kiamat kau sajikan? Dan, mengapa di sini? Belum habis rasa takut kami pada tentara-tentara—dan bahkan tetangga—yang tega membunuh ayah, mamak, kakak, adik, dan saudara-saudara kami, di depan mata kepala kami sendiri! Belum pupus dari ingatan kami perempuan-perempuan dihamili, anak-anak jadah dilahirkan, sekaligus membuahkan dendam kesumat yang abadi. Belum tuntas kami dicekam kesunyian yang berpanjang. Dan belum tandas rasa kesal kami pada ketidakadilan penguasa yang merampok kekayaan tanah kami. Kini Kau lumat kami dengan bencana ini. Kau perintahkan air laut menerjang desa-desa kami, layaknya Poseidon yang murka kepada para perompak. 

Sementara aku hanya terbang. Aku bisa menembus pekat dan gelap, bukit yang terjal bahkan tembok yang pejal. Aku benar-benar terbang seperti sedang berada dalam trance perjalanan astral. Aku pun leluasa melihat pemandangan. Pemandangan di sekujur Bumi Serambi Mekah, tempatku lahir dan dibesarkan yang kini menjadi sama saja; rumah-rumah yang runtuh, tubuh-tubuh yang lusuh, dan jiwa-jiwa yang luruh. Tangis-tangis hati yang tersayat, dan mayat-mayat. Genangan air yang bercampur darah, orang-orang berlarian tak tentu arah, mencari sanak keluarga yang hilang atau sekadar mati, rebah, pecah.  

Pernahkah kau bayangkan samudera yang luasnya melampaui imajinasi terliar manusia, berdiri tegak membentuk dinding air berwarna hitam? Lalu berlari mengejar, melindas, menyeret, menyapu, menenggelamkan, dan menghancurkan apapun yang ada di depannya? Tahukah kau kenapa dinding air tersebut berwarna hitam? Dia hitam karena menjadi cermin kesedihan yang dibuahkannya. Dia hitam karena bercampur dengan tanah dan darah manusia. Dia hitam karena tidak peduli. Betapa. Dialah yang tempo hari datang ke desaku. Tanpa kabar, tanpa tanda. Hanya datang, padahal tak diundang. Dan setiap orang tiba-tiba menjadi mendiang. 

Di pojok Desa Pusong Lamo kulihat seorang perempuan tua dengan pakaian dan jiwa yang koyak. Dia selamat, tapi mesti kehilangan sepuluh keluarga dan sanak. Sepuluh! Hidup tentu bukan lagi berkah dengan kehilangan begitu rupa. Dia berjalan gontai. Jiwanya lunglai, seperti anai ditiup angin yang berderai. Dia berucap datar tanpa tangis. Seperti bukan diselimuti tragis. Entah karena tegar atau hanya kesedihan yang menghabis. Dari bibirnya yang pucat rekah dia menutur sedang mencari tiga anaknya, dua menantunya, dan lima cucunya yang salah satunya masih merah. Dia bertanya kepadaku. Kujawab tidak tahu. Kemudian dia menitipkan pesan, jika bertemu mereka aku diminta memberi kabar. Tak berpikir panjang, aku mengiya. Aku pun kembali terbang. Menembus awan yang putih, menerabas aroma jenazah yang lirih. 

Aku sempat heran kenapa hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihatku. Sebagian besarnya acuh saja pada kehadiranku. Tapi, anehnya, mereka yang tadinya acuh tetap menjawab ketika kusapa. Kusadari kemudian kalau akulah yang sebenarnya mengendalikan kesadaran mereka akan keberadaan diriku.  

Sebegitu mengguncangkankah bencana ini sampai merenggut kesadaran manusia demikian rupa? Sehingga begitu sulit kita menghidupkan impuls-impuls syaraf yang sebenarnya ringkih? 

Pernah suatu ketika setelah bencana mendera aku melihat seorang bocah lelaki yang duduk termenung di emperan meunasah yang sudah menjelma puing di daerah Cok Sukun, sambil memeluk lututnya yang terluka. Begitu mudah dia merangkul kedua kakinya yang menekuk, saking kurusnya. Kulihat dahi anak itu juga belepotan darah yang mulai menghitam, menyaru warna rambutnya yang memudar. Wajahnya lebam, matanya sembab dan berkantung. Pakaiannya tinggal celana pendek, bertelanjang dada. Pada awalnya dia tidak melihatku berdiri di depannya. Tetapi saat kusapa, tiba-tiba dia menjawab dan serta merta bisa menampak tubuhku. 

“Nama kamu siapa?” tanyaku. 

“Pasya bang,” dijawabnya sambil menahan sakit. Aku bingung antara ingin menolongnya atau sekadar bercakap-cakap. 

“Kamu tinggal di mana?” aku melanjut. Siapa tahu aku kenal daerah tempat dia tinggal, dan mungkin bisa mengantar, entah bagaimana caranya. 

Dia diam sejenak, seperti hendak mengingat sesuatu. Mulutnya meringis, akhirnya tidak sanggup dia membendung tangis.

“Tolongin Pasya bang, mamak dan ayah ke mana bang?”  

Tegar itu pun melayang dari persemayamannya di lubuk hatiku. Aku terisak. Cukup lama. Sampai akhirnya aku sanggup mengendalikan diri dengan menyebut nama Allah, berkali-kali. Nama itu begitu saja meluncur dari mulutku. Padahal dalam keadaan yang paling baik sekalipun, jarang saja aku bisa mengingat nama-Nya. Apalagi melisankannya?

Kemudian kuulang lagi pertanyaan tentang tempat tinggalnya. Dia tetap menangis, sambil menyebut-nyebut mamak dan ayahnya. Kuputuskan untuk segera membawanya ke tempat yang lebih baik, untuk mendapatkan bantuan. Dia pasti kehausan atau kelaparan. Beberapa kilometer saja pasti ada tempat penampungan. 

Kuraih tangannya, tapi luput. Aku heran. Kucoba bopong tubuh anak malang itu, tetapi kudapati angin saja yang mampu kurengkuh. Aku panik. Apakah diriku adalah badan halus yang sudah terpisah dari tubuh kasar? Yang tetap tersambung oleh sebuah tali perak, layaknya pembebasan jiwa para meditator Hindu? Aku khawatir tali perak itu putus dan aku benar-benar mati, seperti orang-orang yang punah tersapu dinding air itu. Tapi, jika demikian, di mana tubuhku? Ah, aku tidak sanggup lagi menatap mata Pasya yang mengiba, memohon. Tolong, jangan salahkan aku jika tidak bisa membantumu nak…Dan aku kembali melanglang. Melintasi sisa-sisa harapan, jika masih ada. Memandangi bangunan yang memuing dan sukma yang meletih.  

Di tengah lolongan minta tolong dan bau mayat yang membisu tak kulihat tangan-tangan penguasa di sana-sini. Yang ada hanyalah para relawan dari kaum kami sendiri, dan dari negeri jauh di seberang sana. Dari manusia yang katanya kafir. Padahal kulihat derita tanah Aceh menghiasi hampir seluruh stasiun televisi yang pasti juga sempat ditonton para penguasa berdasi, dan tentara berseragam rapi, yang katanya seiman sehati. Padahal aku tahu para penguasa itu sudah kenyang menjarah kekayaan tanahku, menangkapi ganja-ganjaku untuk dijualnya kembali dengan harga jauh lebih tinggi. Mencoleng bahan bakar gas dari perut desaku. Menikmati vagina perawan dan janda di halaman rumahku. Tapi kini mereka justru mencampakkan saudara-saudaraku. Yang mati tidak dikuburkan dengan layak, yang hidup tidak diperlakukan dengan bijak, malah berusaha berjarak. Di tengah ‘holocaust’ mereka menjanjikan surga bagi tubuh-tubuh malang itu. Mati syahid kata mereka. Ah, apalah gunanya janji itu? Tahu apa mereka tentang mati?

*** 

DAN aku kembali terbang. Sekali lagi kusigi tubuh-tubuh yang membujur kaku. Lama-kelamaan kurasakan menatap mayat menjadi begitu biasa. Bukan lagi pengalaman yang menimbulkan trauma. Menghirup bau bangkai manusia pun menjadi rutin saja, tidak lagi mual atau muntah yang menguar.  

Sejurus kemudian tertumpu mataku pada sesosok mayat yang rasanya kukenal. Raut wajahnya, meski sudah agak coklat bercampur tanah (atau darah?), bentuk tubuhnya, dan potongan rambutnya. Dia seperti…aku!!! Aku terkesiap, molekul-molekul suara berkejaran ingin mengeruap dari mulutku, kemudian bersenyawa mengucap Allahu Akbar…, berkali-kali, meski sangat sulit. 

Sekejap setelah itu aku kembali melayang. Kali ini tidak ada yang dapat kupandang. Semuanya memutih. Sejenak mataku seperti mengapur. Lamat-lamat kudengar suara memanggil-manggil namaku. Tubuhku berguncang. Wajah cemas mamakku dengan kepekatan yang rendah menyeruak dari keputihan pandanganku. Kutelengkan pandangan menyapu udara. Aku kini berada dalam ruangan putih berwujud segi empat. Aku sedikit limbung. Di tembok sebelah kiri kulihat pahatan kayu jati bundar bertuliskan asma Allah dan Muhammad SAW. Sebelah kanan ada jendela yang membuka dengan gorden yang melambai-lambai, tanda angin sedang berdesir. Ini kamar tidurku. Astagfirullah…, alhamdulillah…, semuanya cuma mimpi buruk.*** 

Jakarta, 5 Januari 2005

(Andai semuanya hanya mimpi buruk)


Posted at 03:04 pm by Firman Firdaus
Komentar  

Next Page



Firman Firdaus
Saat ini sedang menjadi penulis rubrik sains di Harian Media Indonesia. Mengisi waktu luang dengan menulis, menulis, dan menulis.
Kadang-kadang mengamati gerak lincah bintang-bintang, dan akhirnya selalu merasa kecil di hadapan Sang Pencipta.
   

<< May 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed